Memahami Luka Batin Bersama Psikologi Klinis

Ada kalanya hidup tidak berjalan tepat sesuai yang kita inginkan. Apa yang kita upayakan selain mencapai keberhasilan, juga bisa terbentur kegagalan. Kebaikan yang kita lakukan tidak selalu direspon manis seperti yang para motivator katakan. Meski maksudnya baik, kebaikan tidak selalu mendapat penerimaan.

Saat situasi semacam itu terjadi, emosi kita akan bekerja. Muncul perasaan marah, sedih, kecewa, takut, gelisah, bingung dan sebagainya.

Pengalaman itu juga dialami oleh Suneo. Suneo adalah laki-laki dewasa yang cerdas luar biasa. IPK-nya 3,95. Nyaris sempurna. Akan tetapi hingga setahun lebih lulus kuliah, ia tak kunjung diterima bekerja. Selalu gagal di sesi wawancara.

Padahal ia sudah membaca banyak sekali buku tips lolos wawancara. Ia juga berlatih di depan kaca, bahkan berkali-kali latihan bicara, disimak salah satu tetangga yang seumuran dengannya. Ia bingung. Setiap masuk sesi wawancara, rasanya sulit sekali mengeluarkan kata-kata yang sudah tertata di pikirannya.

Hari demi hari Suneo semakin kecewa pada dirinya. Ia mulai menyebut diri sendiri sebagai produk gagal. Untungnya Suneo masih mau mendengarkan tetangga yang setia mendukung perjuangannya. Ia disarankan untuk konsultasi dengan Psikolog.

Di ruang konsultasi itulah akhirnya terungkap kisah-kisah dari masa lalu dan ini adalah salah satunya.

Siang hari di sekolah, saat jam istirahat, seorang anak laki-laki kelas 1 SD lewat depan toilet. Ia menoleh lalu melihat air di bak mandi tumpah membanjiri lantai. Seseorang sepertinya lupa menutup kembali kran air setelah menggunakannya.

Anak laki-laki itu masuk ke toilet dan memutar kran, mencoba menutupnya. Sayangnya ia tidak berhasil. Di putar ke kanan atau ke kiri, sama saja. Air tetap mengalir dengan derasnya.  Kran itu ternyata memang sudah rusak.

Saat si anak sedang mencoba mematikan kran, Pak Guru lewat dan melihat apa yang dia lakukan. Entah apa yang saat itu Pak Guru pikirkan, ia langsung menjewer telinga anak laki-laki itu dan menariknya keluar menuju ke lapangan. “Dasar anak nakal! Kran itu bukan buat mainan! Bodoh banget sih Kamu!”, teriak Pak Guru dan masih terus berlanjut dengan kalimat-kalimat menyerang lainnya, hingga ia puas meluapkan kekesalannya.

Anak laki-laki itu sebenarnya mau menjelaskan, tapi ketakutan menelan segala yang ingin ia sampaikan. Siang itu ia menangis di lapangan, disaksikan oleh teman-teman.

Sakit yang Suneo kecil rasakan akibat dijewer memang tak seberapa, hilang dengan segera. Namun luka batinnya masih terbawa hingga ia dewasa, bahkan ikut menghambat aktivitasnya.

Dari kisah Suneo kita belajar bahwa luka batin bisa sama merugikannya dengan luka fisik yang dibiarkan saja. Masalahnya luka batin itu tak kasat mata, kadang dianggap tidak ada, sehingga kita tak melakukan apa-apa.

Jadi harus bagaimana?

Agar kita mampu menghadapinya, kita perlu memahami dulu apa dan bagaimana luka batin itu sebenarnya. Untuk melakukannya kita bisa menggunakan kacamata salah satu bidang kajian dalam Psikologi yaitu Psikologi Klinis.

Comments are closed.